Bukan Esai Tentang Cinta

Cerpen Umi Rahayu

              Sampai di kos aku melepas semua pakaianku yang kuyup karena hujan, dan menggantikannya dengan pakaian kering. Setelah menyeduh kopi instan, aku segera membuka laptop dan bersiap menulis. Kalau beberapa waktu lalu Abi Fathe menulis opini Sastra Bisa Apa?, maka kali ini aku akan menulis esai Kuliah Sastra, Bisa Apa?

              Pada tulisan ini, sama sekali aku tidak ingin menyinggung prospek kerja seorang sarjana sastra. Aku hanya sedang merenung-renung, aku kuliah sastra hampir empat tahun, tapi aku tidak bisa menjawab rentetan pertanyaan yang Abi berikan beberapa jam yang lalu.

              Setelah berkeliling-keliling di Gerobak Art Kos Hysteria, membaca dan mengamati zine-zine yang dipamerkan, aku dan Abi menepi, duduk di ruang depan Gerobak Art Kos, mungkin semacam ruang tamu minimalis. Dan di tembok ruang depan itu tertempel logo hysteria cukup besar. Sedangkan di luar ruang tamu itu, puluhan orang duduk lesehan, merokok, dan ngobrol.

              “Ah kalian ini aku tunggu-tunggu dari siang baru kelihatan!”

              Aku menoleh ketika kawan sekelasku, Istik, muncul dari dalam. Akhir-akhir ini dia sibuk magang di Hysteria.

              “Sudah keliling-keliling?”

              Aku mengangguk mengiyakan.

              “Tadi ada yang tanya-tanya soal Lakuna, sepertinya tertarik. Katanya sampulnya keren-keren,.”

              “Ya jelas! Siapa dulu pemrednyaaa,” seru Abi sambil mengerlingkan mata padaku. Aku menonyor kepalanya. Pujian terhadap Lakuna membuatku kecut, mengingat akhir-akhir ini aku tak lagi bisa fokus menggarap jurnal sastra itu. Beberapa kali terlambat terbit. 

              “Sori ya, aku sembari kerja.”

              Istik lantas duduk di samping Abi. Ia meletakkan laptop di meja.

              “Istik sibuk banget sekarang. Kapan mau lulus, Tik? Magang terus! Ha-ha-ha.”

              “Ah gampang,” tukas Istik. Matanya terus menatap layar laptop.

              “Aku malah belum siap untuk lulus,” kata Abi. Dalam hati, aku juga mengatakan demikian.

              “Kalau mau, sebenarnya aku bisa lulus semester ini,” lanjutnya.

              Aku memangku tangan, mulai tak tertarik dengan pembahasan yang akan dia mulai. Seluruh jurusan bahkan fakultas mungkin tahu, Abi Fathe yang disebut-sebut sebagai penggerak literasi sekaligus politikus, senang menulis artikel ilmiah. Dia pandai berilmiah-ilmiah ria, menulis opini, esai, resensi, dan karya non fiksi lain.

              “Sarjana sastra, tapi apa paham ditanya pengertian paragraf? Frasa, kata, klausa?”

              Aku masih diam mendengarkan, tapi mataku tak bisa memandang Abi dengan biasa-biasa saja. Rasa jengah mungkin telah menjalar ke mataku. Namun, dia malah makin menggebu-gebu.

              “Masih inget nggak apa itu langue-parole? Coba deh ingat nggak tujuh unsur kebudayaan menurut Koentjaraningrat?”

              Rentetan pertanyaan itu bagai peluru yang menghunjam kepala. Kakiku bergerak-gerak. Makin tidak nyaman. Meski dia bercanda, aku tahu dia meremehkan pengetahuanku soal teori-teori sastra. Karena itu aku berusaha mengorek ingatan tentang teori-teori menjenuhkan itu.

              “Ehm! Teori kebudayaan. Pertama… kepercayaan.”

              Hanya itu yang bisa aku ucapkan biar tak terlihat bodoh-bodoh amat. Ya, hanya itu. Lainnya aku tak hafal, apalagi secara urut. Tapi bagiku itu sudah lumayan. Paling tidak aku menyerap sedikit teori dari dosen Menulis Karya Ilmiah Populerku, Pak Saroni. Kata Pak Saroni, tujuh unsur kebudayaan itu bisa dikatakan urut, yang pertama adalah hal paling susah diubah manusia, dan terakhir adalah yang paling mudah. Unsur kebudayaan pertama adalah kepercayaan. Turun-temurun, sebuah keluarga mayoritas menganut kepercayaan yang sama. Dan dari lahir hingga menjelang maut, biasanya seseorang hanya menganut satu kepercayaan. Ha! Hebat juga kan aku? Belum tentu Abi paham soal itu karena waktu membahas tujuh unsur kebudayan bersama Pak Saroni, Abi tidak berangkat. Ha-ha-ha.

              “Memang kamu hafal?” tanyaku ketus ketika Abi berhaha-hehe meremehkan. Aku memicing, sesungguhnya aku tak yakin betul dia paham dengan apa yang dia pertanyakan.

              “Penulis pertama siapa coba?”

              Bangsat! Belum juga dijawab dia sudah memberikan pertanyaan lain. Aku menyisir rambutku ke belakang sambil mencari-cari jawaban. Ruang tamu minimalis ini menjadi makin terasa sempit dengan jejalan pertanyaan  Abi yang makin kurang ajar itu. Dalam hati aku menyesali mengapa selama tiga tahun aku tak begitu peduli dengan segala teori sastra? Paling banter aku hanya paham definisi sastra dan beberapa nama sastrawan beserta angkatannya. Itu pun hanya beberapa! Tak sampai peduli pada penulis pertama. Ah! Memalukan benar jika kelak aku lulus tapi tak paham dengan teori-teori dasar sastra.

              Mendengar rentetan pertanyaan-pertanyaan Abi membuatku mangap-mangap, seperti ikan kehilangan oksigen. Ingin rasanya aku menjawab, tapi aku tidak bisa menjawabnya! Sial betul! Aku ini penulis! Meremehkan sekali dia bertanya begitu. Lagi-lagi dia berhaha-hehe. Sesekali menengok Istik, tapi perempuan berkacamata bundar itu tak menggubris.

              “Tahu nggak, Tik?” Abi menepuk pundak Istik.

              “Tahu dong, tapi malas jawab. Ayumi saja yang jawab,” Istik memandangku sejenak dengan tatapan malas, lalu beralih lagi ke laptopnya.

              “Gimana sih, katanya sudah skripsi.”

              Istik membalas dengan juluran lidah. Sementara itu, dengan segala ketenanganku, aku masih mencari-cari jawaban. Aku tahu penulis pertama yang dia maksud, tapi aku lupa! Yang muncul justru wajah dosen Sejarah Sastra Modern, Pak Burhan, ketika memberikan pertanyaan serupa di kelas.

              “Penulis pertama setelah sastra lisan. Masa lupa sih? Apa nggak tahu?”

              Abi masih menatapku dengan tatapan meremehkan. Aku merasa kepalaku mulai menyerah mengorek-orek teori di semester dua itu. Meski berasa tak sanggup, aku tetap berusaha mendongak.

              “Yang dianggap menjadi sastra pertama itu kan? Yang tahun 1920?”

               Ah! Hebat sekali aku ini! Bisa ngomong sastra angkatan 1920! Sejak kapan aku hafal angkatan sastra?

              “Em itu, yang karyanya berjudul Azab dan Sengsara?” Lanjutku terbata-bata. Keyakinanku merosot seketika.

              “Oooh bukan! Bukan itu!”

              Ah! Benar kan?!

              “Penulis pertama di Nusantara adalah Raja Ali Haji dan Abdullah bin Abdul Qodir Munsyi.”

              Abi tampak berpuas-puas hati. Aku mengambil sebatang rokok di dalam tas. Menyulutnya. Aku ingin balik menyerang, tapi aku merasa telah kalah telak. Istik di samping Abi hanya diam dan sibuk bekerja, sama sekali tak membantu.

              Aku mengisap rokok dalam-dalam, lantas mengepulkan tinggi-tinggi, membentuk asap panjang, seperti asap dari cerobong kereta api di film Harry Potter. Kakiku ongkang-ongkang lemah. Aku kesal dan ingin marah, tapi aku menahan-nahan.

              Aku ini penulis! Satu novel sudah aku terbitkan! Meski tidak terkenal-terkenal amat, novel itu adalah proses kreatifku yang cukup panjang. Dan ketika aku menulis aku tak pernah memikirkan teori-teori tentang apa itu paragraf, kata, frasa, kalimat, langue-parole, signifie, signifiant, tujuh unsur kebudayaan, atau perlu memikirkan siapa penulis pertama di Nusantara.

              “Tak usahlah lulus cepat-cepat. Nanti Lakuna siapa yang urus?” Suara Abi tiba-tiba melembut. Aku memandangnya dengan tatapan biasa, sebisa mungkin aku harus biasa-biasa saja.

              “Kok berteorinya mandek?” Cetus Istik. Aku menahan seyum.

              “Jawab tuh,” timpalku. Kali ini aku tak bisa menahan senyum.

              “Kasihan aku kasih pertanyaan tentang teori. Aku ya cuma bisa kasih asupan teori. Sori lo, Yum, kalau teori-teori ini nggak membantumu bisa menulis fiksi lagi.”

              Aku tersenyum simpul. Beberapa waktu lalu aku sempat curhat kepadanya, aku sedang mengalami writer block. Gagasan sangat sulit aku tuangkan, meski di kepala ada ribuan. 

              “Aku mau lulus cepat.” Ucapku penuh keyakinan. Abi tampak kalah.

              “Lakuna bakal reorganisasi. Aku tak mungkin memimpin seumur hidup. Kau pikir aku presiden orba?”

              Abi tertawa. Dia mungkin tahu aku jengkel.

              “Oke-oke. Tapi aku menyarankan, sekadar menyarankan lo ya. Kamu harus mendalami teori-teori sastra juga. Aku yakin suatu saat kamu akan diundang jadi pembicara. Masa ditanya teori-teori dasar sastra nggak mampu jawab?”

              Sial benar dia! Itu lagi itu lagi. Lagi pula siapa yang akan menanyakan teori sastra di acara seminar kepenulisan sih! Aku ingin berteriak-teriak, tapi rasanya kejengkelan menguasaiku, membuatku tak nafsu ngomong panjang-lebar. Dan satu pertanyaan meluncur tanpa daya.

              “Terus mau kamu apa?”  

              “Pelajari teori sastra, linguistik, tata tulis ilmiah, dan semuanya yang ilmiah. Mulai berlatih menulis opini kek atau esai kek. Editorial yang kamu tulis juga banyak yang buruk.”

              Ingin rasanya aku kembali berteriak-teriak, mengatakan bahwa menulis fiksi juga tak kalah ilmiah, perlu melakukan riset dan olah data. Bahkan ketambahan satu cara: olah imajinasi. Namun, lagi-lagi aku hanya bisa menelan kata-kataku itu. Aku hanya diam dan memainkan asap rokok. Abi masih nyungar-nyungir.

              Kejengkelanku tak habis-habis sampai kami pamit ke Istik dan beberapa kawan di Hysteria. Gerimis turun, tapi kami tetap memutuskan pulang.

              “Kenapa buru-buru sih? Sebentar lagi ada live music lo.”

              “Aku ada kerjaan,” ucapku dengan wajah dimanis-maniskan.

              “Mau cabut ke NIR,” tambah Abi. Istik manggut-manggut.

              Gerimis di sepanjang jalan makin menderas. Sepanjang perjalanan, aku tak mengucap sepatah kata pun. Abi juga diam. Kami seolah sama-sama menikmati rintik gerimis dan padatnya Kota Semarang.

              “Kenapa?” Tanya Abi ketika aku memperbaiki posisi duduk. Aku hanya menggeleng. Seandainya dia tahu apa yang sedang aku pikirkan sampai membuatku resah, mungkin dia akan tergelak-gelak. Ya. Aku sedang memikirkan opini atau esai macam apa yang akan aku tulis sesampai di kos nanti.

              Dan sampailah aku di kos ini, dan menulis. Aku membuka esaiku dengan gaya bercerita. Bercerita dan bercerita, sampai aku lupa bahwa tulisan ini telah jadi. Ya, menjadi sebuah cerita! Cerita pendek!

              Oh Abi, betapa kurang ajar kau. Setelah kemarin aku bercerita tentang writer block yang aku alami,  malam ini dia memancingku dengan keangkuhannya. Tak berapa lama setelah tulisan ini jadi, ponselku berdering. Sebuah pesan whatsapp dari Abi Fathe:

              Tidurlah. Besok aku bagi ilmu tentang teori sastra yang aku pelajari, dijamin nggak membosankan. Kau banyak-banyak saja menulis cerita, sebab aku menyayangimu karena kau seorang pencerita.

Tinggalkan komentar