Jumat Sore yang Tak Biasa Cerpen Umi Rahayu https://id.pinterest.com/pin/639863059536755434/ Tidak ada cara lain untuk memaknaimu selain dengan deret kata yang kaucipta. Meski kau selalu menyiapkan secangkir kopi pahit untukku, tak berarti kau pun menyiapkan secawan rindu. Bagiku, rindu hanyalah milikku, kecuali pada Jumat yang tak biasa. Pada hari itu, kau mencipta rekah bunga dalam dada, … Lanjutkan membaca DI SEBUAH KEDAI KOPI
Kategori: Cerpen
Nur Ingin Pergi ke Jakarta
Cerpen Umi Rahayu https://jatmikadrawing.blogspot.com/ Februari tak mau menyisakan kering. Jelang Magrib, gerimis mulai turun. Untung saja bus antarprovinsi tujuan ke Kali Deres menepi seratus meter dari loket pembelian tiket. Orang-orang berebut masuk, termasuk istri Ruslam yang tak ingin bayi dalam dekapannya terkena tetesan gerimis. Setelah semua orang masuk ke dalam bus, Ruslam baru menyusul … Lanjutkan membaca Nur Ingin Pergi ke Jakarta
Di Bawah Pohon Kersen
Cerpen Umi Rahayu Ilustrasi Andi Rahmansah Angkot pada akhir pekan sangat sepi penumpang. Padahal pada hari-hari itulah anak-anak berada di rumah dan justru makin rewel minta ini-itu. Tak hanya jajan, acap kali mereka terbawa ajakan plesiran pemuda-pemudi kampung. Kalau sudah begitu, mau tak mau aku mengucap janji. Janji yang ke sekian kali dan tak kunjung … Lanjutkan membaca Di Bawah Pohon Kersen
Perempuan yang Hidup 1000 Tahun
Cerpen : Umi Rahayu DorinusIllustrations/www.ourartworld.com Aku dan Papa berjalan keluar gedung pementasan. Kami adalah penonton pertama yang keluar dari gedung itu, padahal di sana pertunjukan balet belum lama dimulai. Tadi sore Papa memaksaku untuk datang ke gedung pementasan bersamanya. Kata dia aku harus sering menonton pertunjukan balet jika ingin menjadi seorang penari balet yang baik. … Lanjutkan membaca Perempuan yang Hidup 1000 Tahun
Bukan Esai Tentang Cinta
Cerpen Umi rahayu Sampai di kos aku melepas semua pakaianku yang kuyup karena hujan, dan menggantikannya dengan pakaian kering. Setelah menyeduh kopi instan, aku segera membuka laptop dan bersiap menulis. Kalau beberapa waktu lalu Abi Fathe menulis opini Sastra Bisa Apa?, maka kali ini aku akan menulis esai Kuliah Sastra, Bisa Apa? … Lanjutkan membaca Bukan Esai Tentang Cinta
Menyapa Gendis
https://i.pinimg.com/564x/35/cd/37/35cd37f9dca267363b731ba47ba58e36.jpg Seberkas cahaya masuk melalui ventilasi di atas pintu. Aku menggeliat, menghabiskan sisa-sisa kemalasan. Ah! Sudah terlalu siang. Harusnya aku bisa bangun lebih pagi. Hunianku—rumah kontrakan beukuran 3x4 meter dan sebilik kamar mandi di dalam— menjadi sangat sumpek ketika hari mulai siang. Memang sudah siang. Rambut gondrongku aku ikat asal dengan karet bekas nasi rames, … Lanjutkan membaca Menyapa Gendis