Surat Untuk Nanda

Cerbung ayumi hara https://id.pinterest.com/pin/53621051797512266/ Kepada: nandaaziz95@gmail.com Subjek: Membalas surat 25 Maret 2020 Selamat, pagi. Hai, apa kabar? Aku sedang minum lemon tea hangat. Pukul 12 malam tadi aku baru menyelesaikan setumpuk artikel dan merapikan data-data. Karena itulah aku membuka email, mendapati pesanmu yang nyaris tertimbun. Suratmu pada 25 Maret kemarin baru bisa kubalas pagi ini. … Lanjutkan membaca Surat Untuk Nanda

DI SEBUAH KEDAI KOPI

Jumat Sore yang Tak Biasa Cerpen Umi Rahayu https://id.pinterest.com/pin/639863059536755434/ Tidak ada cara lain untuk memaknaimu selain dengan deret kata yang kaucipta. Meski kau selalu menyiapkan secangkir kopi pahit untukku, tak berarti kau pun menyiapkan secawan rindu. Bagiku, rindu hanyalah milikku, kecuali pada Jumat yang tak biasa. Pada hari itu, kau mencipta rekah bunga dalam dada, … Lanjutkan membaca DI SEBUAH KEDAI KOPI

Nur Ingin Pergi ke Jakarta

Cerpen Umi Rahayu https://jatmikadrawing.blogspot.com/             Februari tak mau menyisakan kering. Jelang Magrib, gerimis mulai turun. Untung saja bus antarprovinsi tujuan ke Kali Deres menepi seratus meter dari loket pembelian tiket. Orang-orang berebut masuk, termasuk istri Ruslam yang tak ingin bayi dalam dekapannya terkena tetesan gerimis. Setelah semua orang masuk ke dalam bus, Ruslam baru menyusul … Lanjutkan membaca Nur Ingin Pergi ke Jakarta

Di Bawah Pohon Kersen

Cerpen Umi Rahayu Ilustrasi Andi Rahmansah Angkot pada akhir pekan sangat sepi penumpang. Padahal pada hari-hari itulah anak-anak berada di rumah dan justru makin rewel minta ini-itu. Tak hanya jajan, acap kali mereka terbawa ajakan plesiran pemuda-pemudi kampung. Kalau sudah begitu, mau tak mau aku mengucap janji. Janji yang ke sekian kali dan tak kunjung … Lanjutkan membaca Di Bawah Pohon Kersen

Perempuan yang Hidup 1000 Tahun

Cerpen : Umi Rahayu DorinusIllustrations/www.ourartworld.com Aku dan Papa berjalan keluar gedung pementasan. Kami adalah penonton pertama yang keluar dari gedung itu, padahal di sana pertunjukan balet belum lama dimulai. Tadi sore Papa memaksaku untuk datang ke gedung pementasan bersamanya. Kata dia aku harus sering menonton pertunjukan balet jika ingin menjadi seorang penari balet yang baik. … Lanjutkan membaca Perempuan yang Hidup 1000 Tahun

Tak Sekadar Potongan Kisah Perempuan

resensi umi rahayu https://mojokstore.com/product/pre-order-sunyi-di-dada-sumirah/ Tokoh perempuan dalam karya sastra telah banyak dilahirkan oleh para penulis, baik penulis ternama maupun penulis yang baru-baru ini muncul di publik. Dapat kita lihat beberapa karya sastra, khususnya novel, menjadikan perempuan sebagai subjek, bukan lagi objek. Misalnya pada novel Saman karya Ayu Utami yang kemunculannya disebut-sebut sebagai pergerakan sastra baru … Lanjutkan membaca Tak Sekadar Potongan Kisah Perempuan

Bukan Esai Tentang Cinta

Cerpen Umi rahayu                             Sampai di kos aku melepas semua pakaianku yang kuyup karena hujan, dan menggantikannya dengan pakaian kering. Setelah menyeduh kopi instan, aku segera membuka laptop dan bersiap menulis. Kalau beberapa waktu lalu Abi Fathe menulis opini Sastra Bisa Apa?, maka kali ini aku akan menulis esai Kuliah Sastra, Bisa Apa?               … Lanjutkan membaca Bukan Esai Tentang Cinta

Dua Keadaan Berbeda dalam Satu Tempat dan Waktu yang Sama Terinspirasi dari Lawang Sewu

Dokumen istimewa Siapa sangka berlibur membuahkan kreasi menarik? Itulah yang sempat terlintas di pikiran Kelita Puspadini setelah mengunjungi objek wisata Lawang Sewu, Semarang. Ketika berlibur ke salah satu ikon di Semarang itu, Kelita merasa berada di sebuah kotak yang tak tersentuh oleh dunia luar. Ia pun membayangkan sebuah benda di dalam resin mirip dengan Lawang … Lanjutkan membaca Dua Keadaan Berbeda dalam Satu Tempat dan Waktu yang Sama Terinspirasi dari Lawang Sewu

Menyapa Gendis

https://i.pinimg.com/564x/35/cd/37/35cd37f9dca267363b731ba47ba58e36.jpg Seberkas cahaya masuk melalui ventilasi di atas pintu. Aku menggeliat, menghabiskan sisa-sisa kemalasan. Ah! Sudah terlalu siang. Harusnya aku bisa bangun lebih pagi. Hunianku—rumah kontrakan beukuran 3x4 meter dan sebilik kamar mandi di dalam— menjadi sangat sumpek ketika hari mulai siang. Memang sudah siang. Rambut gondrongku aku ikat asal dengan karet bekas nasi rames, … Lanjutkan membaca Menyapa Gendis