Menyapa Gendis

Seberkas cahaya masuk melalui ventilasi di atas pintu. Aku menggeliat, menghabiskan sisa-sisa kemalasan. Ah! Sudah terlalu siang. Harusnya aku bisa bangun lebih pagi. Hunianku—rumah kontrakan beukuran 3×4 meter dan sebilik kamar mandi di dalam— menjadi sangat sumpek ketika hari mulai siang. Memang sudah siang. Rambut gondrongku aku ikat asal dengan karet bekas nasi rames, kemudian aku segera beranjak keluar. Mataku memicing, silau kena sinar matahari. Empat deret kontrakan di samping tampak sepi, tapi aku tidak peduli. Di sini hanya satu kontrakan yang aku pedulikan siang hingga malam. Sebuah kontrakan paling pojok dengan gantungan jemuran selalu terisi. Pagi ini jemuran itu pun berisi pakaian-pakaian basah. Ya ya, aku terlambat. Dengan hati kecewa aku kembali ke dalam kontrakan.

            Kalau sudah begini, aku hanya bisa berkata seandainya. Seandainya aku semalam tidak begadang, seandainya semalam aku tidak malas untuk tidur, seandainya pagi ini aku bangun lebih pagi, dan seandainya-seandainya yang lain. Seandainya semua andai-andai itu terwujud maka aku bisa melihat gadis di kontrakan pojok itu, sedang menjemur pakaian-pakaiannya. Heran betul sebab setiap pagi dia sibuk menjemur, dan hari-hari selanjutnya aku tidak pernah melihat dia. Kadang aku bertanya, apakah dia manusia? Sebab dia keluar hanya untuk menjemur.

            Tok tok tok! Pintu terketuk. Aku menyahut dengan “Yaaa!” dan pintu terbuka. Teh Sur membuka pintu. Dia membawa sepiring pisang goreng.

            “Tumben, Teh?” ucapku sambil menerima sepiring pisang goreng itu. Harum sekali.

            “Dari Gendis. Tadi pagi dia ke sini tapi kamunya belum bangun.”

            “Gendis?” Teh Sur mengangguk.

            “Piring ini saya saja yang kasih ke dia.”

            “Ini piring saya, Ruslam!” Teh Sur kemudian pergi meninggalkan aroma sabun cuci. Rupanya wanita berbadan dua itu habis mencuci. Gendis tadi ke sini? Alamak! Muncullah pertanyaan kenapa. Kenapa aku tidak bangun lebih pagi, kenapa aku tidak bisa mencium aroma Gendis dari dekat? Kenapa aku tidak mendengar ketukan pintu dari tangan kecil mungil berkulit putih itu? Dan pagi ini aku mendapat sepiring pisang goreng dari Teh Sur yang berwangi sabun cuci murahan, bukan dari seorang Gendis yang pasti wangi parfum mahal?

            Dari hari ke hari aku makin penasaran dengan Gendis. Meski tiga bulan kami menjadi tetangga, tapi tak pernah barang satu kali pun kami bercakap. Paling tidak bertegur sapa. Paling banter adalah saling lempar senyum, dan di saat itu juga aku menyesal karena tidak pernah berani untuk menyapa dia dengan kata-kata, meski di dalam rumah aku telah berlatih siang malam.

            “Siang, Mbak,” ucapku di depan cermin, tentu dengan senyumku yang paling manis, dan anggukan kepala. Tapi itu terlihat seperti sedang hormat kepada presiden, meski aku belum pernah berhadapan dengan presiden.

            “Pagi, Neng!” Terdengar lebih santai tapi terkesan sok kenal sok dekat.

            “Assalamualaikum.” Kalau aku mengucap salam begitu dan terdengar oleh Teh Sur, pasti dia akan nyinyir : “Gendis saja kamu beri salam, saya mah nggak pernah euy!” Itu pasti terjadi, karena selama ini aku menyapa Teh Sur dengan : “Teh Sur lagi Teh Sur teruuus!” Jadi itu akan menimbulkan pergolakan hati dan jiwa, aku tidak mau menyakiti Teh Sur yang sudah kuanggap kakak kandung.

            Dari pagi hingga senja merekah, aku jarang sekali bertemu dengan Gendis. Tidak hari ini, juga tidak untuk hari-hari berikutnya. Dan yang paling aneh adalah ketika aku melihat dia mengunci pintu rumah, lalu berjalan menuju gang, berlenggok di atas jalan sempit depan kontrakan. Ketika itu aku tidak bisa berbuat apa-apa selain terpaku memandangnya yang mulai mendekat. Berjalan dengan anggun, memakai seragam biru-biru, seragam pabrik yang selalu dia cuci setiap hari. Ketika senyum kepadaku, rambut panjangnya menjuntai seperti iklan shampoo. Parfum mahal tercium, sangaaat lama, mungkin dia sudah menuju jalan raya dan naik bus jemputan ke pabrik.

            “Kamu pengen kawin sama dia?” aku terjingkat ketika Teh Sur mengerling di sampingku. Musibah apa sehingga rumah kontrakanku bersanding dengan rumah kontrakannya? Alamak!

            “Dia itu cantik, seksi, dan banyak duit, kamu ini seperti gembel. Bau, pemalas, awut-awutan. Mana mau dia sama kamu?”

            “Duit saya hampir sama kok sama duit dia. Hanya saja saya lebih bisa mengatur keuangan. Saya tidak pernah membeli parfum mahal dan tas bagus. Saya ini laki-laki sejati,” ucapku dengan penuh semangat. Semangat untuk tidak mundur dari omongan pedas Teh Sur.

            “Tetap saja kamu bukan level dia! Sebentar lagi dia paling pindah dari sini, tidak level di tempat kumuh begini.”

            “Sok tahu!”

            Teh Sur masuk ke kontrakan sambil berlenggok membawa sapu. Aku menghela napas, merasa sedih ketika Gendis berangkat pagi dan aku harus berangkat siang. Itu adalah hal yang tidak adil. Perbedaan shift membuat aku tidak punya waktu untuk menyapa Gendis, atau hanya sekadar melempar senyum kepadanya.

            Berhari-hari aku mengumpulkan nyali untuk menyapa dengan kata-kata. Dan kini tiba saatnya aku akan menyapa dia dengan kata-kata di dalam kertas. Pasti itu sangat romantis, apalagi hari ini adalah hari Sabtu. Di dalam bus jemputan ke pabrik, aku tersenyum sendiri.  Aku menggerutu ketika jalanan macet. Hari ini aku butuh sampai di rumah kontrakan lebih cepat. Senja sudah mengawang di pintu tol. Masih dua puluh menit untuk sampai, itu pun kalau tidak macet. Apakah di hari Sabtu begini Gendis di kontrakan? Dia tentu tidak sepertiku, mengambil lembur di hari Sabtu. Mungkin di hari Sabtu dia seharian tidur di kontrakan, atau pergi jalan-jalan. Entah. Aku tidak pernah sejauh itu memperhatikan dia. Satu hal yang aku tahu adalah pada hari Sabtu dia tetap menjemur baju di depan rumah dengan pewangi beraroma parfum segar, lalu rambut panjangnya menjuntai indah, basah, dan hitam. Kulitnya yang putih bersih tampak sangat kinclong seperti model ibu kota. Aku makin tidak sabar untuk sampai.

            Malam ini lorong kontrakanku sepi. Beberapa rumah berlampu padam. Hanya di kontrakan Teh Sur tampak sedang menonton TV acara dangdut, suara TV itu sangat keras. Suasana sepi ini membuat aku lebih leluasa untuk mengendap ke kontrakan Gendis. Sebelumnya aku pastikan—di kanan-kiri, depan belakang, dan tentu yang paling aku waspadai adalah Teh Sur—tidak ada orang.

            Ini adalah kali pertama aku tidak mendapati satu jemuran pun di depan rumah kontrakan Gendis. Lampu juga padam. Ke mana dia? Aku menjadi ragu. Hmmm mungkin dia sedang lembur? Atau dia sedang pergi membeli makan? Ya, mungkin itu. Aku membuka tas selempang buluk yang selalu aku bawa ke mana pun aku pergi, lalu aku mengeluarkan secarik kertas dan aku selipkan di bawah pintu, kemudian segera pergi. Di kamar, aku siap siaga menunggu pintu kontrakan Gendis terbuka, hingga aku tertidur.

            Alamak! Aku tertidur! Lagi-lagi seberkas cahaya matahari yang masuk lewat ventilasi di atas pintu membuat aku berandai-andai. Tok tok tok! Pintu terketuk. Aku sedikit gugup, sebab aku yakin bahwa itu bukanlah Teh Sur, tidak ada wangi sabun murahan yang menyeruak. Tapi parfum cokelat yang menyengat. Segera akau membuka pintu. Seorang perempuan berambut panjang dikucir kuda tersenyum di depanku. Senyumnya manis sekali, suaranya serak-serak basah saat bertanya kepadaku.

            “Mas Ruslam?” Aku mengangguk.

            “Maaf, ini sepertinya salah alamat,” perempuan itu tersenyum sembari menyerahkan secarik kertas. Aku masih tertegun dan tidak bisa berkata apa-apa.

            “Mbak Gendis kemarin siang pindah ke perumahan Griya Mustika dan kemarin sore saya menempati kontrakan di pojok itu. Nama saya Laksmi, kalau mau main boleh lo,” kemudian perempuan bernama Laksmi itu tertawa renyah, serenyah wafer yang baru keluar dari kaleng.

            “Terima kasih,” ucapku, lalu Laksmi mengangguk. Dia kembali ke kontrakannya. Kertas di tangan menjadi tak berarti lagi. Kertas itu masih utuh. Aku malu karena kertas itu sudah dibaca Laksmi.

            Selamat malam. Saya Ruslam dari kontrakan nomor 1. Saya ingin menyapa dengan kata-kata, tapi apakah Mbak Gendis tidak apa-apa kalau saya ajak ngobrol? Hehe.

Aku buru-buru melempar kertas itu ke kasur di belakangku ketika Teh Sur menyembul di pintu kontrakannya.

“Jangan mengharap dia. Dia sudah punya suami,” ucap Teh Sur. Seringainya menyebalkan. Aku mengangkat kedua bahuku, dan masuk ke rumah dengan rasa kecewa.║